23.43

STRATEGI MENGAJAR

tulisan ini dibuat berdasarkan salah satu karya ilmiah yang disusun oleh Marina Diah Nasution dan H. Fuad Nashori (UII) yang berjudul Harga Diri Anak Jalanan. Karya ilmiah tersebut dipresentasikan dalam acara Temu Ilmiah Psikologi yang diselenggarakan pada tanggal 18 April 2006 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui harga diri dan faktor-faktor yg mempengaruhi harga diri anak jalanan. Subjek penelitian adalah lima anak jalanan yg berusia di bawah 18 tahun dan memiliki ciri khas tertentu, seperti anak yang orangtuanya telah bercerai, ditelantarkan, memiliki status sosial ekonomi tingkat bawah, dan lain-lain. Menurut penelitian tersebut tema-tema harga diri anak jalanan adalah menerima status sebagai anak jalanan, penyesalan menjadi anak jalanan, merasa tidak ada pilihan lain selain sebagai anak jalanan, menilai diri negatif, tidak memiliki kemampuan lain selain mengamen, kecamuk perasaan saat mengamen, malu dengan lawan jenis (bisa mempertahankan hubungan baik dengan sesama), hubungan dengan keluarga tidak baik, merasa penting bagi teman, sikap marah terhadap penilaian masyarakat dan sebagainya. Menurut mereka beberapa faktor yang ikut mempengaruhi harga diri anak jalanan yaitu kehidupan keluarga yang tidak harmonis, penilaian dari teman sebaya, keadaan ekonomi yang sulit, dan penilaian masyarakat yang negatif. Dari kelompok anak jalanan ini, ada yang masih bersekolah dan ada yang sudah tidak bersekolah lagi. Bagi mereka yang bersekolah akan muncul berbagai masalah yang berkaitan dengan status ekonomi dan keadaan psikologis (low achievement, depression, eating disorders dan delinquency). Selanjutnya tulisan ini akan dikhususkan pada mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah namun masih bertahan untuk tetap sekolah.
Sebelum menguraikan inti dari permasalahan, ada baiknya apabila kita mengetahui dahulu arti dari status sosial ekonomi dan self-esteem itu sendiri. Dalam buku Educational Psychology 5th ed. (Ormrod, 2006) disebutkan pengertian Socioeconomic status (SES) yaitu kedudukan sosial ekonomi secara umum dari seseorang dalam masyarakat (dilihat dari pendapatan keluarga, pekerjaan, dan tingkat pendidikan). Orang-orang dengan low-SES seringkali memiliki pendidikan yang kurang, kurang kekuatan untuk mempengaruhi institusi komunitas (sekolah), dan sedikit sumber ekonomi (Dalam buku Educational Psychology; Santrock, 2001). Dalam buku tersebut diuraikan pula pengertian dari self-esteem yaitu dimensi evaluasi secara global dari diri sendiri. Self-esteem merujuk pada self-worth atau self-image dan merefleksikan keseluruhan confidence dan kepuasan seseorang akan diri mereka sendiri. Self esteem yang rendah ditandai dengan low achievement, depression, eating disorders dan delinquency (Harter & Marold, 1992 dalam buku Educational Psychology; Santrock, 2001). SES yang rendah dapat mengakibatkan self-esteem yang rendah pula karena adanya evaluasi negatif dari diri mereka, terbukti dari hasil penelitian yang menyebutkan tema-tema harga diri anak jalanan yang berupa penyesalan menjadi anak jalanan, menilai diri negatif, dan sikap marah terhadap penilaian masyarakat. Hal ini tentu akan mempengaruhi kelancaran proses belajar-mengajar khususnya di sekolah.
Merujuk pada pembahasan di atas, maka cara-cara yang dianjurkan sebagai strategi mengajar pada siswa dengan self-esteem rendah (Dalam buku Educational Psychology; Santrock, 2001) adalah :
1. Mengidentifikasi terlebih dahulu penyebab dari self-esteem yang rendah dan area kompetensi yang penting bagi diri sendiri.
2. Menyediakan dukungan emosional dan pengakuan dari lingkungan sosial.
3. Membantu pencapaian siswa
4. Mengembangkan kemampuan coping siswa

0 komentar: